Roma – Francesco Totti ternyata pernah mendapat kesempatan untuk kembali merumput di Serie A setelah memutuskan pensiun. Legenda AS Roma itu mengungkap bahwa Genoa dan Como sempat berusaha membujuknya kembali bermain ketika usianya sudah menginjak 48 tahun.
Kisah tersebut diungkap Totti melalui autobiografinya yang baru diterbitkan. Sebelumnya, mantan kapten Roma itu memang pernah mengisyaratkan bahwa ada klub Serie A yang tertarik membawanya keluar dari masa pensiun. Namun, identitas kedua klub tersebut baru diketahui setelah Totti menceritakan detailnya dalam buku tersebut.
Totti gantung sepatu pada 2017 setelah menghabiskan seluruh karier profesionalnya bersama Roma. Tujuh tahun kemudian, tepatnya pada 2024, ia mendapat pendekatan dari Genoa dan Como untuk kembali bermain di kompetisi tertinggi Italia.
Tawaran tersebut tentu bukan sesuatu yang biasa. Ketika Genoa dan Como mendekatinya, Totti sudah berusia 48 tahun dan telah menjalani kehidupan sebagai mantan pesepak bola profesional selama bertahun-tahun.
Namun, menariknya, Totti mengaku sempat benar-benar mempertimbangkan kemungkinan tersebut.
Genoa Jadi Klub Pertama yang Menghubungi
Genoa menjadi klub pertama yang melakukan pendekatan kepada Totti. Saat itu, Alberto Gilardino masih menangani tim tersebut. Gilardino memiliki hubungan khusus dengan Totti karena keduanya pernah menjadi bagian dari Timnas Italia yang menjuarai Piala Dunia 2006.
Totti mengungkap bahwa pembicaraan dengan Genoa bukan sekadar candaan atau wacana. Pihak klub benar-benar memberikan kesempatan kepadanya untuk memutuskan apakah ingin menjalani pengalaman baru di Serie A.
Direktur Genoa menjadi orang pertama yang menghubunginya secara langsung. Pertanyaan yang diajukan pun cukup sederhana: apakah Totti bersedia mencoba kembali bermain atau tidak.
Keseriusan Genoa membuat Totti tidak langsung menolak. Ia memilih mengambil waktu untuk memikirkan tawaran tersebut. Bahkan, sang legenda Roma mulai menjalani latihan lebih serius untuk mengetahui apakah kondisi fisiknya masih memungkinkan tampil dalam pertandingan profesional.
"Saya mengatakan tidak kepada Genoa dan Como ketika berusia 48 tahun," ungkap Totti dalam autobiografinya, seperti dikutip Sky Sport.
Keputusan tersebut tidak diambil dalam waktu singkat. Totti mengaku sempat menjalani latihan dengan intensitas tinggi sebelum akhirnya menentukan sikap.
Ia menambah porsi latihan di luar aktivitas sepak bola rekreasional yang biasa dijalaninya. Persiapan fisik itu dilakukan untuk mengukur sejauh mana tubuhnya masih mampu menghadapi tuntutan sepak bola profesional.
Kenangan di Marassi Membuatnya Bimbang
Ada alasan lain yang membuat tawaran Genoa terasa spesial bagi Totti. Klub tersebut memiliki hubungan dengan pertandingan terakhirnya sebagai pemain Roma.
Totti memainkan laga terakhir dalam karier profesionalnya bersama Roma ketika menghadapi Genoa pada Mei 2017. Pertandingan tersebut berlangsung di Stadio Olimpico, tetapi Genoa tetap memiliki tempat khusus dalam kisah akhir karier sang legenda.
Totti juga mengaku menyukai atmosfer Stadion Luigi Ferraris atau Marassi. Menurutnya, stadion tersebut memiliki karakter klasik dengan suporter yang sangat dekat dengan lapangan.
Kenangan tersebut membuat tawaran Genoa semakin sulit untuk langsung ditolak.
Gilardino bahkan beberapa kali menghubungi Totti melalui WhatsApp untuk menanyakan perkembangan keputusannya. Totti mengatakan bahwa secara logika ia sempat merasa bisa menerima tantangan tersebut.
Namun, keputusan akhirnya justru datang dari sisi emosional.
Kepala Totti mungkin mengatakan bahwa ia masih bisa mencoba, tetapi hatinya memberikan jawaban berbeda. Setelah mempertimbangkan semuanya, ia memilih tetap berada dalam masa pensiun.
Como Juga Datang dengan Tawaran
Genoa ternyata bukan satu-satunya klub yang mencoba mendapatkan jasa Totti.
Como juga sempat mendekati mantan penyerang Timnas Italia tersebut. Saat itu, Cesc Fabregas menjadi pelatih Como. Fabregas sendiri merupakan salah satu nama besar dalam sepak bola Eropa dan memiliki pengalaman panjang bermain di level tertinggi.
Totti menyebut situasi tersebut terasa unik. Ketika pendekatan dilakukan, Fabregas yang jauh lebih muda darinya sudah berada di pinggir lapangan sebagai pelatih, sedangkan Totti telah tujuh tahun meninggalkan sepak bola profesional.
Kedua pelatih yang berada di balik pendekatan tersebut, Gilardino dan Fabregas, sama-sama memiliki latar belakang sebagai pemain kelas dunia. Gilardino merupakan bagian dari skuad Italia saat menjadi juara dunia pada 2006 bersama Totti, sementara Fabregas memiliki karier panjang bersama Arsenal, Barcelona, Chelsea, dan Timnas Spanyol.
Pada akhirnya, Totti menolak kedua tawaran tersebut.
Bukan karena Fisik Semata
Keputusan Totti untuk tidak kembali bermain ternyata bukan hanya berkaitan dengan faktor usia.
Dalam ceritanya, ia mengakui bahwa usia 48 tahun memang membuat tantangan fisik menjadi lebih besar. Kecepatan dan kemampuan beradaptasi dengan intensitas pertandingan tentu tidak sama seperti ketika dirinya masih berada di puncak karier.
Namun, Totti merasa usia bukan satu-satunya persoalan.
Ada pertanyaan yang terus muncul dalam pikirannya: apakah ia benar-benar mampu mengenakan seragam klub lain setelah sepanjang kariernya hanya bermain untuk Roma?
Pertanyaan tersebut akhirnya menjadi penentu.
Totti menghabiskan 25 tahun karier profesionalnya bersama Roma. Ia tampil dalam 786 pertandingan kompetitif dan mencetak 307 gol. Ia juga menjadi pemain dengan jumlah penampilan serta gol terbanyak dalam sejarah klub.
Selama berada di ibu kota Italia, Totti memenangkan Scudetto musim 2000/2001, dua Coppa Italia, serta dua Supercoppa Italiana. Bersama Timnas Italia, ia juga menjadi bagian dari skuad yang memenangkan Piala Dunia 2006.
Dengan seluruh perjalanan tersebut, hubungan Totti dengan Roma jauh melampaui status seorang pemain dan klub.
Hati Totti Tetap untuk Roma
Totti kemudian menyadari bahwa kembali ke Serie A dengan mengenakan seragam selain Roma bukanlah sesuatu yang mudah baginya.
Ia bahkan mengibaratkan persoalan tersebut sebagai konflik antara kepala dan hati. Secara rasional, ia mungkin masih memiliki kesempatan untuk bermain. Akan tetapi, secara emosional, ada batas yang tidak ingin dilewatinya.
Totti menyadari bahwa dirinya telah membangun identitas yang sangat kuat bersama Roma. Karena itu, bermain untuk klub Serie A lain setelah pensiun bisa terasa berbeda dibandingkan sekadar menerima tantangan baru.
Pada akhirnya, keputusan untuk menolak Genoa dan Como menjadi pilihan yang ia ambil setelah melalui proses pertimbangan cukup panjang.
Menariknya, Totti tetap percaya bahwa kemampuan fisik tidak serta-merta hilang hanya karena usia. Dalam autobiografinya, ia menyampaikan pandangan bahwa seorang pemain memang bisa menjadi lebih lambat seiring bertambahnya usia, tetapi kemampuan kaki dalam memainkan bola tidak otomatis menghilang.
Karier yang Tidak Pernah Berpindah Klub
Kisah tawaran Genoa dan Como semakin menegaskan betapa uniknya perjalanan karier Totti.
Berbeda dengan banyak pemain bintang yang berpindah dari satu klub besar ke klub lainnya, Totti memilih bertahan bersama Roma sejak level junior hingga mengakhiri karier profesional.
Ia menjalani seluruh karier klubnya bersama Giallorossi. Karena itu, kesempatan untuk kembali bermain setelah pensiun sebenarnya bukan sekadar persoalan apakah tubuhnya masih sanggup atau tidak.
Ada konsekuensi emosional yang jauh lebih besar.
Totti bahkan menganggap hubungan dengan Roma sebagai sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari identitasnya sebagai pesepak bola. Setelah pensiun, ia tetap menjadi salah satu simbol terbesar dalam sejarah klub tersebut.
Kini, kisah pendekatan Genoa dan Como menjadi bagian lain dari perjalanan panjang Totti. Ia pernah berada di titik di mana pintu untuk kembali ke Serie A terbuka, bahkan ketika usianya sudah 48 tahun.
Namun, setelah mempertimbangkan tawaran tersebut dan kembali mengukur hubungannya dengan Roma, Totti akhirnya memilih tidak kembali.
Ia tetap menjadi legenda Roma yang menghabiskan seluruh karier profesionalnya dalam satu seragam—dan tawaran dari dua klub Serie A tersebut hanya menjadi salah satu kisah menarik yang muncul setelah ia meninggalkan lapangan pada 2017.
